Sebelum jadi aplikasi yang dipakai kontraktor lain, Mandorly lebih dulu jadi alat yang kami pakai sendiri.
"Kami capek laporan proyek ilang di antara chat WhatsApp keluarga."
Mandorly dimulai bukan sebagai ide startup, tapi sebagai alat internal.
Tim di baliknya menjalankan PT. Dekade Nusa Persada, kontraktor dan pemasok paving block yang mengerjakan proyek di Jabodetabek dan Jawa Barat. Seperti kebanyakan kontraktor lain, laporan harian dicatat lewat grup WhatsApp, foto progres tercecer di galeri HP, dan Surat Penawaran Harga diketik ulang dari nol setiap ada proyek baru.
PT. Dekade Nusa Persada tetap berjalan sebagai bisnis kontraktor dan pemasok paving block yang jadi asal-usul cerita ini. Untuk mengembangkan dan mengoperasikan Mandorly sebagai produk software secara serius, didirikanlah badan usaha terpisah, PT. Mandor Sukses Naik Kelas — yang tercantum sebagai badan hukum resmi di seluruh halaman situs ini.
Masalahnya bukan soal malas mencatat. Masalahnya sistem yang dipakai — kertas, chat, dan ingatan — memang tidak dirancang untuk mengelola banyak proyek sekaligus.
Jadi dibangunlah sebuah alat internal kecil untuk menyelesaikan masalah itu sendiri: satu tempat untuk laporan harian, tahapan pekerjaan, dan anggaran. Alat itu dipakai di proyek-proyek sendiri selama berbulan-bulan, diperbaiki setiap kali ada yang terasa tidak pas di lapangan.
Baru setelah alat itu benar-benar terbukti membantu pekerjaan sehari-hari sendiri, muncul pertanyaan sederhana: kalau ini membantu satu kontraktor, kenapa tidak dibagikan ke kontraktor lain yang menghadapi masalah yang sama?
Itulah Mandorly hari ini — dibangun dari kebutuhan nyata di lapangan, bukan dari template aplikasi manajemen proyek generik yang ditempeli istilah konstruksi.
Setiap mandor dan kontraktor di Indonesia — sekecil apa pun timnya — punya alat kerja yang setara dengan yang dipakai perusahaan konstruksi besar.
Setiap fitur berangkat dari masalah nyata yang pernah dialami sendiri di proyek — bukan dari daftar fitur kompetitor yang ditiru.
Mudah dipakai mandor di lapangan dengan sinyal seadanya, tapi tetap cukup lengkap untuk kebutuhan Owner dan Project Manager.
Kepercayaan klien dibangun lewat data yang bisa mereka lihat sendiri, bukan lewat laporan yang baru dibuat setelah ditanya.
Alat kerja yang baik seharusnya tidak mahal. Biaya langganan bulanan dijaga jauh lebih kecil dari nilai satu proyek yang dikelola.